Showing posts with label jawa timur. Show all posts
Showing posts with label jawa timur. Show all posts
Monday, March 23, 2015

Jalan-Jalan Terus: Menjelajah Dunia Di Kota Malang

Don't judge a book by its cover. Mungkin peribahasa itu cocok sekali untuk kota Malang. Walau kota kecil, kota ini ternyata sangat happening, dan ga ada malang-malangnya! Udara yang sejuk dan harga-harga yang relatif murah, menjadikan kota Malang mampu bersaing dengan beberapa kota besar di Indonesia untuk menjadi tujuan utama liburan.

Jawa Timur Park 2
Seriously, gw ulang lagi, don't judge a book by its cover. Dari luar, Jawa Timur Park 2 atau yang juga dikenal dengan Jatim Park 2, terlihat kecil. Namun ternyata, dalamnya sangat besar. Bagi yang mau berlibur di sini, sebaiknya datang agak pagian, supaya bisa benar-benar menjelajah semua kawasan.

Jatim Park 2 dibagi menjadi 2 kawasan: Batu Secret Zoo dan Museum Satwa. Batu Secret Zoo, salah satu kebun binatang terbaik yang pernah gw kunjungin. Hebatnya lagi, ternyata Jatim Park 2 ini bukan milik pemerintah. Bisa dibayangkan betapa besar upaya pemilik dan pengelolanya untuk mendatangkan hewan-hewan ini. I salute them! Walaupun sebenernya, kalo ngeliat binatang, gw lebih prefer tipe Safari.

Pintu masuk ke Batu Secret Zoo
Batu Secret Zoo bisa dibilang cukup lengkap. Ada berbagai jenis monyet, berbagai jenis harimau dan keluarga kucing besar lainnya, beberapa jenis burung, rakun, berang-berang, kuda nil, ular, sampai hewan laut seperti ubur-ubur, bisa ditemukan di sana. Bahkan ada beberapa binatang belum pernah gw liat sebelumnya. 











Yang pake kacamata itu bukan binatang, tapi gw dan adek gw :P
Setelah puas menjelajah Batu Secret Zoo, gw melanjutkan perjalanan gw ke Museum Satwa, yang letaknya masih di dalam Jatim Park 2. Masih berhubungan dengan hewan, di Museum Satwa, pengunjung bisa menemukan serangga-serangga yang mungkin di air keras, dan bahan-bahan tertentu yang dibuat dan di-design sedemikian rupa sehingga terlihat seperti hewan nyata, baik dari segi bentuk, warna, dan ukuran.






Batu Night Spectacular
Singkatnya disebut BNS. BNS juga tempat hiburan yang lumayan besar, buka dari pukul 3 sore sampai pukul 12 malam. Di dalamnya ada food court dengan aneka pilihan makanan, lengkap dengan musik, dance, air mancur, dan laser show; ruko-ruko yang menjual pakaian, pernak-pernik, serta mainan; wahana permainan seperti laser tag, Go Kart, dan lainnya; rumah hantu (yang ga ada serem-seremnya); 3D museum; rumah kaca; dan lampion garden, wahana favorit gw.

Pintu masuk BNS






Museum Angkut
Katanya, didirikan oleh group yang sama dengan yang mendirikan Jatim Park. I salute them more! Dari sekian banyak museum yang pernah gw kunjungi, baik di dalam maupun di luar negeri, museum angkut ini adalah museum terbaik!!!

Sesuai dengan namanya, museum angkut menyajikan berbagai jenis transportasi dari yang kuno, klasik, hingga modern. Museum transportasi pertama dan terbesar di Asia Tenggara ini memamerkan lebih dari 300 kendaraan. Dari replika mobil yang digunakan Presiden Soekarno, mobil tipe X yang pertama kali dibuat, mobil yang digunakan aktor X, dan banyak lagi. Eh, bukan cuma mobil saja, bahkan ada kereta kuda, motor, kapal, helikopter, dan pesawat, lho.

Uniknya lagi, beberapa area di-design sedemikian rupa dengan tema tertentu. Misalnya kota Jakarta jaman dahulu alias Batavia, tentunya lengkap transportasi seperti gerobak, sepeda, delman, dan lainnya. Selain itu ada Jepang, Amerika, Jerman, Inggris (bahkan lengkap dengan replika Buckingham Palace-nya), dan masih banyak lagi. Dateng ke museum ini, serasa menjelajah dunia!

Sshhh...! Bumble Bee juga mobil
Mobil kepresidenan jaman Soekarno
Nyokap gw berfoto sama kereta kuda







Batavia
Batavia
Batavia
Jepang
Jepang
Eropa
Pertunjukkan film di Eropa. Beneran disetelin film yang masih hitam putih dan beberapa tempat duduk layaknya  bioskop mini.
Inggris
Inggris
Buckingham Palace, Inggris
Hulk di Amerika
Pasar Apung
Keluar dari museum angkut, masih dalam kawasan yang sama, pengunjung disambut dengan Pasar Apung, di mana para pengunjung dimanjakan dengan aneka makanan tradisional khas Jawa Timur. Dari snack-snack jajanan pasar, sampe makanan berat seperti nasi campur, bisa ditemukan di sana. Penggemar kuliner pasti betah berlama-lama di sini. Selain makan, pengunjung juga bisa berfoto-foto serta naik perahu.



D'Topeng Kingdom Museum

D'Topeng Kingdom Museum masih terletak dalam satu kawasan dengan Museum Angkut. Tepatnya, di dalam Pasar Apung. Dibandingkan Museum Angkut, museum ini termasuk kecil. Di dalamnya ada barang-barang bersejarah peninggalan (mungkin) jaman kerajaan-kerajaan di Indonesia, seperti topeng, patung-patung, keris, koin-koin, dan lainnya.

Berhubung gw bukan pencinta budaya, jadi menurut gw museum ini kurang menarik. Namun, tidak ada salahnya mampir ke museum ini, toh, sudah jauh-jauh datang ke Museum Angkut. 

Sekian tentang kota Malang, and againremember not to judge a book by its cover.
Thursday, January 29, 2015

Jalan-Jalan Terus: Wisata Gunung Bromo

Setelah bosan dengan liburan bertema pantai (Bali, Redang, Belitung, dan beberapa yang tidak dimuat dalam blog), akhirnya Natal 2014 lalu, gw berlibur ke Gunung Bromo.

Berikut barang-barang tambahan yang sebaiknya dibawa saat liburan ke Bromo:
  • Jaket yang cukup tebal
  • Topi yang bisa menutupi telinga
  • Sarung tangan
  • Kaos kaki
  • Sepatu

Singkatnya, baju-baju musim dingin. Mungkin sebagian dari kalian bakal mikir: "Stef ini, kok, lebay banget! Cuma ke Bromo aja harus bawa baju musim dingin kaya mau ke kutub!" Pertama kali juga gw mikirnya gitu. Tapi bagi kalian yang berencana mau ke gunung pendakian dan (mencoba peruntungan) melihat matahari terbit, ga ada salahnya berjaga-jaga. Suhu di atas sekitar 3-20 derajat Celcius, tergantung cuaca. Memang sih, pakainya juga ga lama, paling-paling 3-4 jam. Begitu matahari terbit, udah ga begitu dingin kok.

Ada berita bagus buat yang ga mau ribet bawa baju setebal gaban itu: Di sana banyak orang yang berjualan jaket, topi, sarung tangan, dan kaos kaki. Bahkan ada tempat menyewakan jaket tipe windbreaker. Harganya juga ga mahal-mahal banget dan masih masuk akal, asal pinter-pinter nawar aja.

Ke Bromo tanpa mampir-mampir ke Gunung Pendakian, Kawah Bromo, Bukit Teletubbies, dan Pasir Berbisik, rasanya bagai makan nasi tanpa nasi. Lho? Iya, maksudnya sama aja kaya ga makan gitu. Hehehehe... Sayangnya, mobil pribadi umumnya tidak diijinkan masuk dikarenakan medan lokasi yang membutuhkan mobil-mobil 4WD.

Sewa jeep, atau yang lebih dikenal dengan istilah hardtop, bisa dibilang cukup mahal. Hari-hari biasa sekitar Rp 300.000,00 ke 2 lokasi (Gunung Pendakian dan Kawah Bromo) dan Rp 500.000,00 ke 4 lokasi. Berhubung ini hari libur, tarif pun meningkat drastis, sekitar Rp 700.000,00 ke 2 lokasi dan Rp 900.000,00 ke 4 lokasi. Ga ada harga yang pasti. Karena semua berdasarkan negosiasi aja. Gw sarankan sih nyewanya agak maleman, karena biasa harganya lebih murah, daripada mereka ga dapet penumpang.

Namun hati-hati sama sewa-menyewa hardtop. Entah gw yang lagi sial atau memang banyak calo yang 'nakal', gw punya pengalaman yang kurang mengenakkan!

Cerita singkatnya, kita udah deal ke 4 lokasi seharga Rp 900 ribu. Kita pun membayar DP Rp 200 ribu / hardtop. Si calo pun memberikan KTP temannya (bukan KTP dia karena dia bilang lupa bawa KTP) untuk kita pegang sebagai jaminan.

Setelah sopir menjemput kita pagi-pagi, kita langusng diminta untuk membayar lunas (900 ribu - 200 ribu = 700 ribu), dan meminta KTP teman si calo ini dikembalikan.

Eehh... baru sampe di lokasi ke-2, sopir enggan mengatarkan kita ke 2 lokasi berikutnya dengan alasan:
Kata si calo, kemarin deal-nya cuma 2 lokasi. Kalo untuk ke 4 lokasi itu Rp 900 ribu, bukan Rp 700 ribu. Jadi masih kurang Rp 200 ribu.
Lah, kan memang 900 ribu, 200 ribu nya kita udah bayar buat DP!

Namun si sopir tetep ngotot kalo mereka ga nerima uang 200 ribu itu. Parahnya lagi, pas kita mau meluruskan masalah untuk konfirmasi sama si calo, si calo malah langsung mematikan HP-nya.

Ah, pantas saja kemarin si calo dimintai KTP pun susah sekali, malah KTP temennya yang dikasih, dengan alasan dia lupa bawa KTP. Dan awal-awal si sopir menjemput, mereka langsung minta dibayar lunas dan minta KTP dikembalikan.


Terlepas dari masalah itu, kita tetep bisa enjoy menikmati pemandangan di Gunung Bromo. Berikut kisahnya:

Gunung Penanjakan

Pagi-pagi jam 1.30, gw udah dibangunin sama sopir buat siap-siap menuju ke Gunung Penanjakan. Mereka bilang, lagi musim liburan, takutnya jalanan macet, jadi lebih baik kalo berangkat lebih pagi. Kalo hari-hari biasa sih, jam 3 pagi baru jalan.

Singkat cerita, gw bersiap-siap dengan segala pakaian dingin gw, walau dalam hati masih ga percaya: 'Ah, masa sedingin itu?'

Perjalanan ke Gunung Penanjakan memakan waktu kira-kira 45 menit dan cukup membuat jantung berdebar-debar. Bayangkan saja, hari masih gelap, jalan sangat terjal dan berkelok-kelok. Jalanan yang dilalui pun, sangat sempit dan tidak ada lampu sama sekali, hanya mengandalkan lampu mobil. Lengah sedikit, bisa-bisa masuk jurang. Tapi jangan khawatir, jalanan ini sudah makanan sehari-hari para sopir hardtop.

Sampai di Gunung Penajakan sekitar pukul 3 pagi. Langit juga masih gelap gulita. Banyak warung-warung berjualan makanan, minuman, jaket, dan souvenir.

"Ini kira-kira matahari nya bakal keliatan ga, Pak?" tanya gw ke Bapak penjaga warung.
"Wah, itu saya juga ga tau. Kemarin sih keliatan," jawabnya.
"Ga bisa diprediksi, Pak? Kira-kira dalam waktu 2 jam itu bakal keliatan atau ga kalo cuaca seperti ini?"
"Ga bisa, Dek. Jangankan 2 jam, sampai detik-detik terakhirpun, kita ga bisa memprediksi. Kabut bisa dateng kapan aja. Dan kadang kabut itu cepet sekali nutup (matahari) nya."

Gw tertegun. Makin menyadari kalo manusia ga akan pernah bisa mengalahkan alam.

Setelah minum teh manis dan nyemil biskuit, gw naik sampai ke tempat untuk melihat matahari terbit. Banyak kursi sudah disediakan di sana. Sebagian orang tidur, sebagian duduk sambil terkantuk-kantuk, sebagian, yang hiperaktif, sibuk selfie pake tongsis. Gw sendiri termasuk kategori yang terakhir. Demi mendapat gambar bagus, selfie pun harus diulang-ulang. Gimana enggak, dalam keadaan gelap gulita gini, mau ga mau, harus mengandalkan kamera belakang dan lampu flash. Jadi sebelum foto, kita mesti kira-kira dulu posisinya gimana dengan bantuan senter. Ah, ribet deh pokoknya. Ibarat orang kurang kerjaan, well, sebenernya memang kurang kerjaan. Kita masih menunggu kira-kira 2 jam lagi untuk melihat sun rise, itu pun kalo hoki.

Berikut hasil selfie gw dan penampakan orang-orang yang sama-sama menunggu. Lihat deh, ga lebay kan pake baju ala winter:
Hasil selfie susah payah
Penampilan orang-orang di Gunung Pendakian
Dua jam kemudian, setelah bengong-bengong, jalan-jalan, duduk-duduk dan selfie puluhan kali, akhirnya terlihat tanda-tanda matahari udah mau terbit. Gw langsung mencari posisi di mana gw bisa selfie sama matahari terbit. Gw senang, kayanya hoki deh, bakal keliatan nih matahari terbitnya.
Selfie bersama matahari yang hampir terbit

Kalo menurut jam, bisa dipastikan dalam waktu kurang dari 5 menit lagi, matahari bakal terbit. Tapi ternyataaaaaaa... kita belum beruntung, beberapa detik setelah foto di atas gw ambil, kabut datang dan menghancurkan semua impian yang sudah kita bangun susah payah sejak 2 jam yang lalu.

Serius, ini foto cuma diambil beberapa saat setelah foto di atas!

Kawah Bromo

Setelah kecewa dengan sang kabut, gw pun sarapan pagi di warung terdekat dan melanjutkan ke lokasi kedua, yaitu Kawah Bromo. Perjalanan dari Gunung Penanjakan ke Kawah Bromo tidak begitu jauh, hanya saja macet karena semua hardtop pun menuju ke tempat yang sama.

Kira-kira satu jam kemudian, gw terbangun saat hardtop berhenti di tempat parkiran Kawah Bromo. Untuk melihat kawahnya, kita harus menaiki anak tangga yang banyaaakkk. Turun dari hardtop, kita cuma melongo, ngeliatin kawah dari jarak yang (sangat) jauh. Ditambah lagi, gw jalan-jalan bersama orang tua gw, serta 2 keponakan gw yang baru berumur 3 tahun dan 1 tahun. Makin males untuk naik tangga. Rencana mau sewa kuda pun batal dikarenakan tarifnya yang terlalu mahal.

Gw dan Gunung Bromo

Bukit Teletubbies

Masih inget sama Teletubbies: Tinky-Winky, Dipsy, Laa Laa, Po, dan sang bayi matahari yang selalu terbit setiap pagi (tanpa tertutup kabut) itu? Tempat ini disebut Bukit Teletubbies soalnya mirip sama tempat tinggal para Teletubbies yang di TV-TV, bukit-bukit kecil nan hijau dan lucu.

Oh ya, Bukit Teletubbies letaknya tidak begitu jauh dari Kawah Bromo. Jalanannya pun lurus, ga pake macet karena jalanannya lebar seperti melintasi padang pasir. Kita pun main-main di sini sebentar sebelum melanjutkan ke lokasi terakhir.
Bukit Teletubbies dari kejauhan.

Pasir Berbisik

Walau letaknya bersebelahan dari Bukit Teletubbies, Pasir Berbisik ini penampilannya sangat jauh berbeda. Di sini, kita tidak melihat apa-apa kecuali pasir (dan turis tentunya). Tempat ini disebut Pasir Berbisik karena saat musim kemarau, pasir kering yang tertiup angin ini berbunyi seperti mereka seolah-olah sedan saling berbisik!

Lagi-lagi, entah karena gw sial atau apa, gw cuma bisa membayangkan saja. Gw dateng pas Desember, musim hujan, di mana kondisi pasir lagi agak basah. Angin sepoi-sepoi pun malah berhasil membuat pasir ketiduran. Jadilah tempat ini gw namai Pasir Ketiduran: tempat yang sejuk, angin sepoi-sepoi, suasana cukup sunyi, waktu paling pas buat pasir yang seharusnya berbisik, jadi ketiduran.

Semoga kesibukan selfie kita tidak membangunkan Pasir Ketiduran
Sekian perjalanan gw di Bromo. Masih segar dalam ingatan gw detik-detik menunggu matahari terbit, momen yang sangat mendebarkan. Saat itu, setiap detik jadi begitu berarti. Perjalanan gw cukup singkat memang, tapi, pemandangan di sana jauh lebih indah dari apa yang bisa gw tuliskan di sini. Matahari terbit, kawah bromo, serunya berkuda, bukit nan hijau, dan lautan pasir. 

Semoga kalian yang akan berlibur ke sana, cukup beruntung untuk bisa menyaksikan dan merasakan sensasinya sendiri, khususnya detik-detik menjelang matahari terbit.