Friday, February 13, 2015

Brain VS. Heart: Heartless or Brainless?

Dear Brain,

Maafkan aku, yang selalu ga pernah mau denger nasihatmu.

Brain, Aku sakit lagi... untuk yang kesekian kalinya. Selama ini, kamu memang selalu benar. Apa yang kamu khawatirkan, selalu jadi kenyataan. Aku ga ngerti, dan sepertinya terlalu bodoh untuk mengerti. Padahal, awalnya aku punya feeling yang begitu kuat, aku selalu optimis semua akan berhasil, tapi entah kenapa, akhirnya selalu berbeda dari yang aku bayangkan.

Kamu selalu menahanku untuk jatuh cinta. Kamu selalu bilang, cinta itu tidak boleh terlalu dalam. Nanti ujung-ujungnya, aku yang sakit sendiri. But I can't help it. Aku selalu menggunakan seluruh jiwaku untuk mencintai meski sering tersakiti atas nama cinta. Berkali-kali aku berjanji padamu, tak akan kuberikan maaf semudah itu. Tapi aku tak pernah tega, dan berkali-kali juga, maaf itu meluncur begitu saja. Ya, semudah itu, lagi, dan lagi, dan lagi. Dan akhirnya, aku tetap naif dan percaya akan cinta. Love like I've never hurt before, seolah tak pernah belajar dari kesalahan.

Mungkin, yang lalu aku salah. Dan kali ini pun, aku salah. Namun, sampai detik ini, aku selalu optimis. Suatu saat nanti, aku bisa menemukan dia dan berkata padamu: 'Brain, I'm sure he is the one'. Entah kapan, entah siapa, entah di mana.

Kadang, aku membenci diriku sendiri. Aku sering bertanya untuk apa aku ada. Dan jawaban yang kutahu, aku hanya ada untuk disakiti dan untuk membuatmu sakit. Sepertinya, lebih baik manusia diciptakan tanpa perasaan.

Sekali lagi, maafkan aku, yang ga pernah mau denger nasihatmu.

Agustus 2011,
-Heart-



Dear Heart,

Walaupun kamu selalu melakukan sesuatu yang bertolak belakang dengan nasihatku, aku tidak pernah membencimu.

Kuingat jelas beberapa tahun lalu, saat kamu begitu saja memberikan kata maaf, dan melihatnya menyakitimu lagi untuk kesekian kalinya, aku marah. Bukan marah padamu, tapi marah padanya. Kenapa dia begitu buta sampai-sampai tidak bisa melihat ketulusanmu! Melihatmu begitu terluka, berlinang air mata, aku dan seluruh organ di bawah kontrolku pun, ikut sakit merasakan lukamu.

Atau saat kamu kecewa, kamu hanya mau mengurung diri berhari-hari di kamar dan menutup telingamu rapat-rapat, enggan mendengar ceramahku. Saat itu, aku dan seluruh organ di bawah kontrolku pun, akhirnya diam menemanimu.

Kamu tahu itu semua artinya apa? Artinya, aku dan seluruh organ di bawah kontrolku, sungguh sangat menyanyangimu. Kita merasakan apa yang kamu rasakan. Anehnya, justru saat sakit seperti itulah, aku merasakan kalo kita benar-benar hidup!

Ya, aku memang selalu menasihatimu agar tidak mencintai seseorang terlalu dalam. Aku takut, kalo kamu terus menerus tersakiti, kamu akan menjadi gila, mengutuk cinta dan akhirnya takut jatuh cinta. Aku sering melihat hal seperti itu terjadi. Tapi aku salah, kamu tidak serapuh yang aku bayangkan. Semakin kamu disakiti, kamu malah semakin kuat. Kamu tidak pernah takut untuk jatuh cinta lagi. Love, like you've never been hurt. Tetapi ingatlah, Heart, mencari The One, bukan hanya tugasmu saja. Tapi juga kewajibanku. Berjanjilah, kita tetap akan berjuang bersama.

Kamu mungkin tidak sadar kalau kamu adalah organ terpenting. Ketika kamu bahagia, kamu membuat aku dan seluruh organ di bawah kontrolku pun, bahagia. Lihat saja, bibir ini bersenandung, mata ini bersinar-sinar, dan kaki ini menjadi begitu ringan.

Ketika kamu mencintai, mata pun ikut memancarkan cinta, tangan ini lebih dermawan, bibir ini selalu mengucapkan yang manis-manis, telinga ini jadi lebih pendengar, dan jiwa terasa bersatu dalam raga. Semua itu membuat kita terlihat cantik natural. Sungguh berbeda jika aku yang memerintahkan bibir untuk tersenyum dan mata untuk bersinar, apalagi saat kamu sedang sakit.

Ketika melihat yang butuh bantuan, kamu lah yang pertama kali tergerak untuk membantu. Kamulah yang paling mengerti perasaan dia. Kamu yang paling mengerti apa yang harus kita perbuat, bahkan di saat aku belum mengerti apa yang terjadi.

Ketika menemui sesuatu yang tidak adil, kamu lah yang membuat semua organ ini berdiri tegak membela kebenaran. Kamu yang membuat wajah ini garang, mata ini berapi, kaki ini berdiri tak gentar, dan bibir ini berteriak meminta keadilan. Sedangkan aku merasa sebagai pecundang yang terus meneriakimu: 'Mind our own business. Never try to be a hero!' Sampai suatu saat, aku membaca salah satu quote Martin Luther King , Jr: 'The ultimate tragedy is not the oppression and cruelty by the bad people but the silence of the good people.' Saat itu, aku malu, Heart. Malu akan keberanianmu. Terima kasih untuk tidak mendengarkan aku.
Tetapi di sisi lain, kamu yang selalu membuat bibir ini terdiam saat ingin teriak, ingin memaki, atau adu argumentasi. Kamu yang selalu menjaga nada suara ini tetap lembut, menjaga tangan ini untuk tidak memukul. Karena bagimu, it's better to be kind than to be right.

Kamu, membuat kita dicintai orang lain.
Kamu, membuat orang-orang tetap memiliki faith in humanity.
Kamu, membuat dunia lebih baik.

Tetaplah menjadi dirimu sendiri. Tetaplah berjalan di jalan yang benar. Aku akan terus menjagamu dari belakang. Please never stop loving.

Bersama, kita seimbang ^^


Februari 2012,
-Brain-
Thursday, January 29, 2015

Jalan-Jalan Terus: Wisata Gunung Bromo

Setelah bosan dengan liburan bertema pantai (Bali, Redang, Belitung, dan beberapa yang tidak dimuat dalam blog), akhirnya Natal 2014 lalu, gw berlibur ke Gunung Bromo.

Berikut barang-barang tambahan yang sebaiknya dibawa saat liburan ke Bromo:
  • Jaket yang cukup tebal
  • Topi yang bisa menutupi telinga
  • Sarung tangan
  • Kaos kaki
  • Sepatu

Singkatnya, baju-baju musim dingin. Mungkin sebagian dari kalian bakal mikir: "Stef ini, kok, lebay banget! Cuma ke Bromo aja harus bawa baju musim dingin kaya mau ke kutub!" Pertama kali juga gw mikirnya gitu. Tapi bagi kalian yang berencana mau ke gunung pendakian dan (mencoba peruntungan) melihat matahari terbit, ga ada salahnya berjaga-jaga. Suhu di atas sekitar 3-20 derajat Celcius, tergantung cuaca. Memang sih, pakainya juga ga lama, paling-paling 3-4 jam. Begitu matahari terbit, udah ga begitu dingin kok.

Ada berita bagus buat yang ga mau ribet bawa baju setebal gaban itu: Di sana banyak orang yang berjualan jaket, topi, sarung tangan, dan kaos kaki. Bahkan ada tempat menyewakan jaket tipe windbreaker. Harganya juga ga mahal-mahal banget dan masih masuk akal, asal pinter-pinter nawar aja.

Ke Bromo tanpa mampir-mampir ke Gunung Pendakian, Kawah Bromo, Bukit Teletubbies, dan Pasir Berbisik, rasanya bagai makan nasi tanpa nasi. Lho? Iya, maksudnya sama aja kaya ga makan gitu. Hehehehe... Sayangnya, mobil pribadi umumnya tidak diijinkan masuk dikarenakan medan lokasi yang membutuhkan mobil-mobil 4WD.

Sewa jeep, atau yang lebih dikenal dengan istilah hardtop, bisa dibilang cukup mahal. Hari-hari biasa sekitar Rp 300.000,00 ke 2 lokasi (Gunung Pendakian dan Kawah Bromo) dan Rp 500.000,00 ke 4 lokasi. Berhubung ini hari libur, tarif pun meningkat drastis, sekitar Rp 700.000,00 ke 2 lokasi dan Rp 900.000,00 ke 4 lokasi. Ga ada harga yang pasti. Karena semua berdasarkan negosiasi aja. Gw sarankan sih nyewanya agak maleman, karena biasa harganya lebih murah, daripada mereka ga dapet penumpang.

Namun hati-hati sama sewa-menyewa hardtop. Entah gw yang lagi sial atau memang banyak calo yang 'nakal', gw punya pengalaman yang kurang mengenakkan!

Cerita singkatnya, kita udah deal ke 4 lokasi seharga Rp 900 ribu. Kita pun membayar DP Rp 200 ribu / hardtop. Si calo pun memberikan KTP temannya (bukan KTP dia karena dia bilang lupa bawa KTP) untuk kita pegang sebagai jaminan.

Setelah sopir menjemput kita pagi-pagi, kita langusng diminta untuk membayar lunas (900 ribu - 200 ribu = 700 ribu), dan meminta KTP teman si calo ini dikembalikan.

Eehh... baru sampe di lokasi ke-2, sopir enggan mengatarkan kita ke 2 lokasi berikutnya dengan alasan:
Kata si calo, kemarin deal-nya cuma 2 lokasi. Kalo untuk ke 4 lokasi itu Rp 900 ribu, bukan Rp 700 ribu. Jadi masih kurang Rp 200 ribu.
Lah, kan memang 900 ribu, 200 ribu nya kita udah bayar buat DP!

Namun si sopir tetep ngotot kalo mereka ga nerima uang 200 ribu itu. Parahnya lagi, pas kita mau meluruskan masalah untuk konfirmasi sama si calo, si calo malah langsung mematikan HP-nya.

Ah, pantas saja kemarin si calo dimintai KTP pun susah sekali, malah KTP temennya yang dikasih, dengan alasan dia lupa bawa KTP. Dan awal-awal si sopir menjemput, mereka langsung minta dibayar lunas dan minta KTP dikembalikan.


Terlepas dari masalah itu, kita tetep bisa enjoy menikmati pemandangan di Gunung Bromo. Berikut kisahnya:

Gunung Penanjakan

Pagi-pagi jam 1.30, gw udah dibangunin sama sopir buat siap-siap menuju ke Gunung Penanjakan. Mereka bilang, lagi musim liburan, takutnya jalanan macet, jadi lebih baik kalo berangkat lebih pagi. Kalo hari-hari biasa sih, jam 3 pagi baru jalan.

Singkat cerita, gw bersiap-siap dengan segala pakaian dingin gw, walau dalam hati masih ga percaya: 'Ah, masa sedingin itu?'

Perjalanan ke Gunung Penanjakan memakan waktu kira-kira 45 menit dan cukup membuat jantung berdebar-debar. Bayangkan saja, hari masih gelap, jalan sangat terjal dan berkelok-kelok. Jalanan yang dilalui pun, sangat sempit dan tidak ada lampu sama sekali, hanya mengandalkan lampu mobil. Lengah sedikit, bisa-bisa masuk jurang. Tapi jangan khawatir, jalanan ini sudah makanan sehari-hari para sopir hardtop.

Sampai di Gunung Penajakan sekitar pukul 3 pagi. Langit juga masih gelap gulita. Banyak warung-warung berjualan makanan, minuman, jaket, dan souvenir.

"Ini kira-kira matahari nya bakal keliatan ga, Pak?" tanya gw ke Bapak penjaga warung.
"Wah, itu saya juga ga tau. Kemarin sih keliatan," jawabnya.
"Ga bisa diprediksi, Pak? Kira-kira dalam waktu 2 jam itu bakal keliatan atau ga kalo cuaca seperti ini?"
"Ga bisa, Dek. Jangankan 2 jam, sampai detik-detik terakhirpun, kita ga bisa memprediksi. Kabut bisa dateng kapan aja. Dan kadang kabut itu cepet sekali nutup (matahari) nya."

Gw tertegun. Makin menyadari kalo manusia ga akan pernah bisa mengalahkan alam.

Setelah minum teh manis dan nyemil biskuit, gw naik sampai ke tempat untuk melihat matahari terbit. Banyak kursi sudah disediakan di sana. Sebagian orang tidur, sebagian duduk sambil terkantuk-kantuk, sebagian, yang hiperaktif, sibuk selfie pake tongsis. Gw sendiri termasuk kategori yang terakhir. Demi mendapat gambar bagus, selfie pun harus diulang-ulang. Gimana enggak, dalam keadaan gelap gulita gini, mau ga mau, harus mengandalkan kamera belakang dan lampu flash. Jadi sebelum foto, kita mesti kira-kira dulu posisinya gimana dengan bantuan senter. Ah, ribet deh pokoknya. Ibarat orang kurang kerjaan, well, sebenernya memang kurang kerjaan. Kita masih menunggu kira-kira 2 jam lagi untuk melihat sun rise, itu pun kalo hoki.

Berikut hasil selfie gw dan penampakan orang-orang yang sama-sama menunggu. Lihat deh, ga lebay kan pake baju ala winter:
Hasil selfie susah payah
Penampilan orang-orang di Gunung Pendakian
Dua jam kemudian, setelah bengong-bengong, jalan-jalan, duduk-duduk dan selfie puluhan kali, akhirnya terlihat tanda-tanda matahari udah mau terbit. Gw langsung mencari posisi di mana gw bisa selfie sama matahari terbit. Gw senang, kayanya hoki deh, bakal keliatan nih matahari terbitnya.
Selfie bersama matahari yang hampir terbit

Kalo menurut jam, bisa dipastikan dalam waktu kurang dari 5 menit lagi, matahari bakal terbit. Tapi ternyataaaaaaa... kita belum beruntung, beberapa detik setelah foto di atas gw ambil, kabut datang dan menghancurkan semua impian yang sudah kita bangun susah payah sejak 2 jam yang lalu.

Serius, ini foto cuma diambil beberapa saat setelah foto di atas!

Kawah Bromo

Setelah kecewa dengan sang kabut, gw pun sarapan pagi di warung terdekat dan melanjutkan ke lokasi kedua, yaitu Kawah Bromo. Perjalanan dari Gunung Penanjakan ke Kawah Bromo tidak begitu jauh, hanya saja macet karena semua hardtop pun menuju ke tempat yang sama.

Kira-kira satu jam kemudian, gw terbangun saat hardtop berhenti di tempat parkiran Kawah Bromo. Untuk melihat kawahnya, kita harus menaiki anak tangga yang banyaaakkk. Turun dari hardtop, kita cuma melongo, ngeliatin kawah dari jarak yang (sangat) jauh. Ditambah lagi, gw jalan-jalan bersama orang tua gw, serta 2 keponakan gw yang baru berumur 3 tahun dan 1 tahun. Makin males untuk naik tangga. Rencana mau sewa kuda pun batal dikarenakan tarifnya yang terlalu mahal.

Gw dan Gunung Bromo

Bukit Teletubbies

Masih inget sama Teletubbies: Tinky-Winky, Dipsy, Laa Laa, Po, dan sang bayi matahari yang selalu terbit setiap pagi (tanpa tertutup kabut) itu? Tempat ini disebut Bukit Teletubbies soalnya mirip sama tempat tinggal para Teletubbies yang di TV-TV, bukit-bukit kecil nan hijau dan lucu.

Oh ya, Bukit Teletubbies letaknya tidak begitu jauh dari Kawah Bromo. Jalanannya pun lurus, ga pake macet karena jalanannya lebar seperti melintasi padang pasir. Kita pun main-main di sini sebentar sebelum melanjutkan ke lokasi terakhir.
Bukit Teletubbies dari kejauhan.

Pasir Berbisik

Walau letaknya bersebelahan dari Bukit Teletubbies, Pasir Berbisik ini penampilannya sangat jauh berbeda. Di sini, kita tidak melihat apa-apa kecuali pasir (dan turis tentunya). Tempat ini disebut Pasir Berbisik karena saat musim kemarau, pasir kering yang tertiup angin ini berbunyi seperti mereka seolah-olah sedan saling berbisik!

Lagi-lagi, entah karena gw sial atau apa, gw cuma bisa membayangkan saja. Gw dateng pas Desember, musim hujan, di mana kondisi pasir lagi agak basah. Angin sepoi-sepoi pun malah berhasil membuat pasir ketiduran. Jadilah tempat ini gw namai Pasir Ketiduran: tempat yang sejuk, angin sepoi-sepoi, suasana cukup sunyi, waktu paling pas buat pasir yang seharusnya berbisik, jadi ketiduran.

Semoga kesibukan selfie kita tidak membangunkan Pasir Ketiduran
Sekian perjalanan gw di Bromo. Masih segar dalam ingatan gw detik-detik menunggu matahari terbit, momen yang sangat mendebarkan. Saat itu, setiap detik jadi begitu berarti. Perjalanan gw cukup singkat memang, tapi, pemandangan di sana jauh lebih indah dari apa yang bisa gw tuliskan di sini. Matahari terbit, kawah bromo, serunya berkuda, bukit nan hijau, dan lautan pasir. 

Semoga kalian yang akan berlibur ke sana, cukup beruntung untuk bisa menyaksikan dan merasakan sensasinya sendiri, khususnya detik-detik menjelang matahari terbit.
Tuesday, January 20, 2015

Tiada Hari Tanpa Tawa: Gw dan Alarm Gw

Sahabat Alarm (Lifehacker, 2011)
Persahabatan gw dengan alarm bisa dibilang cukup erat. Gw kayanya punya aura yang cukup menarik bagi alarm-alarm di sekitar gw. Kalo alarm itu diibaratkan sebagai anjing, anjing tetangga bisa teriak-teriak manggil gw, buat minta tolong ngebangunin majikannya.

Kedekatan gw dengan alarm pastinya tidak lepas dari bantuan teman-teman gw yang punya kemampuan tidur super.

Tidur Ala Mayat
Gw pernah punya roomate yang tidurnya kaya mayat. Mungkin mayat aja kalah. Setiap pagi, alarm di HP nya selalu bunyi. Parahnya, suara alarm dia sekencang suara alarm kebakaran. Pertama kali gw denger, gw sampe kaget terbangun dari tidur dan panik, gw pikir ada kebakaran atau emergency apa gitu. Mungkin kalo ada mayat yang tidur bareng-bareng kita, si mayat ini juga pasti ikutan bangun dan panik. Tapi hebatnya, dia tetap tidur pulas! Bergerak aja, enggak! Untung aja ga lama kemudian, dia pindah rumah dan gw terbebas dari alarm kebakaran di pagi hari.

Tidur Dengan Kemampuan Advanced Filtering
Pernah juga gw ketemu sama orang yang ilmu tidurnya udah tinggi. Dia punya kemampuan menyaring suara yang diijinkan masuk atau tidak ke gendang telinga dia sewaktu tidur. Dia bisa bangun kalo ada orang telepon, atau ada SMS, atau ada bunyi-bunyian lainnya yang volume-nya cukup normal untuk membuat orang bangun. Tapi herannya, dia jarang sekali bangun kalo denger alarm-nya sendiri. Jam bekernya mungkin udah bunyi beberapa kali dalam jangka waktu 15 menit, dan dia tetap ga bangun, seolah-olah dia ga denger apa-apa. OMG!

Tidur yang Penuh 'Persiapan'
Yang paling nyebelin itu, orang yang selalu nge-snooze alarm. Misalnya, si A mau bangun jam 9 pagi, tapi dia masang alarm jam 8 pagi, terkadang malah jam 7.30 pagi. Naahhh, keesokan harinya, jam 8 pagi, alarm pun berbunyi. Satu sampai dua menit kemudian, alarm pun mati. Gw cukup lega, karena gw akhirnya bisa melanjutkan tidur gw. Gw pun bisa tidur dengan nye... OH NO!! Lima menit kemudian, alarm itu bunyi lagi. Dan lagi, dan lagi, dan lagi, dan lagi setiap 5 menit. Begitu seterusnya sampai pukul 9 pagi. Nyebelinnya lagi, pas gw komplen, eeehhh, si A dengan enaknya menjawab sambil nyengir, diulang, SAMBIL NYENGIR: "Ooohh, gw emang suka nge-set alarm 1 jam lebih cepet gitu. Jadi pas gw bangun, gw ngerasa gw masih punya banyak kesempatan untuk tidur lagi sampe gw puas."



Seperti persahabatan pada umumnya, pasti donk gw dan alarm pernah mengalami suka-duka persahabatan.

Sahabat Ngambek Ga Mau Berinteraksi
Namanya persahabatan, pasti pernah berantem donk. Begitu juga gw dengan para alarm. Pas itu gw mau balik ke Indonesia, flight jam 12 siang. Jarak rumah gw ke bandara cukup jauh, apalagi gw harus ke stasiun bus dulu, dan naik bus ke bandara. Murah meriah, tapi memang sedikit memakan waktu, butuh 1,5 jam ke bandara. Walau begitu, tetap worth to save.

Malemnya, gw pun pasang alarm jam 7 pagi. Bangun-bangun, packing sebentar, ngecek list barang yang perlu dibawa, mandi, dandan cantik-cantik, dan siap berangkat. Sounds like a perfect plan! Gw pun tidur nyenyak.

Keesokan harinya, bangun-bangun, gw liat HP gw mati. Gw nyalain HP dan ngeliat ternyata udah jam 10.30! Buset, kebo banget gw! Dan dasar HP ini dodol, alarm ga bunyi kalo HP nya mati!!! Kaga pake mandi (oops), gw langsung ganti baju dan ke airport naek taksi. Harus ngirit makan seminggu deh! Tapi ya, untung masih ga telat.

Sahabat Cari Perhatian
Sahabat suka cari perhatian alias caper sama kamu? Oh, kalo begitu kita senasib! Alarm ini juga pernah caper pada saat yang paliiiing ga tepat. Waktu itu gw lagi di pesawat menuju Eropa. Selama di pesawat, HP gw matiin gitu aja tanpa ganti mode menjadi flight mode. Toh gw pikir, gw juga ga bakal ngapa-ngapain dan kerjaan gw di pesawat cuma tidur-nonton-tidur-makan-tidur-pipis-tidur, yang diulang terus-menerus dalam waktu 15 jam.

Naahh, pas lagi asik-asik tidur, HP gw bunyi. Gw panik, kenapa HP gw tiba-tiba bunyi? Perasaan udah gw matiin! GAWAT, bisa-bisa gw didenda atau dilempar keluar dari pesawat karena dianggap membahayakan penumpang.

Orang-orang pun pada ngeliatin gw, mungkin ada pramugari yang ngeliatin gw juga. Gw makin panik dan berusaha lebih keras mencari HP yang kayanya lagi maen petak umpet. Dan pas gw liat, HP gw nyala gara-gara si alarm! Buru-buru gw matiin sebelum gw dilempar keluar dari pesawat.


Gw jadi kasian sama HP. Serba salah dia, HP mati, alarm ikut mati, salah. HP mati, alarm bikin HP jadi nyala pun juga salah. Tapi ya begitulah persahabatan, berbagai suka duka sudah pernah kita lalui bersama, dan sampai detik ini, kita tetap sahabat. Friendship lasts forever! #lebay
Sunday, December 14, 2014

Lika-Liku Software Engineer: Juniors From Hell

Gw seringkali harus berinteraksi sama beberapa software engineer yang cukup bikin melongo. Resume nya bagus. IP nya juga bagus, bahkan, ada yang IP nya 4, hanya saja universitasnya ga jelas. Beberapa bahkan kuliah di negara yang cukup ternama, seperti Amerika dan Jepang. Cuma, pengetahuan tentang komputer dan software nya, sangat kurang sekali.

Ada yang ga ngerti apa itu logika matematika: OR, AND, XOR, ...
Ada yang ga tau number basebinarydecimalhexadecimal, ...
Ada yang ga ngerti bedanya variable biasa dengan array, dan data type lainnya
Ada yang ga tau bedanya variable, class, function, parameter, ...
Ada yang ga bisa bedain hard disk sama RAM
Ada yang logika design nya sangat-sangat parah

Kadang, saking capeknya ngadepin ulah-ulah para junior yang aneh, gw sampe bingung mau ngomel atau ketawa. Diomelin dan dikasih waktu berjuta-juta tahun pun, kalo memang ga bisa, ya ga bisa. Ibaratnya kaya orang ga punya bakat dan passion buat ngegambar, tapi tetep ngotot mau gambar, ngerasa gambarnya udah perfect dan kurang inisiatif buat memperbaiki gambarnya.

Berikut beberapa kisah juniors from hell yang bikin gw ketawa sambil mengelus dada. Supaya para pembaca non-IT mengerti, semua pertanyaan dan term nya akan gw ganti menjadi term yang lebih general.

Junior yang Punya Short-Term Memory Loss
"Jadi, kamu udah ngerti, kan, smartphone itu apa, dan kenapa disebut smartphone?"
"Iya ngerti."
"Terus apa bedanya iOS, Android, Windows Phone, sama Blackberry?"
"Itu bedanya gini... (Dia menjelaskan panjang lebar)"
"Yap betul. Jangan sampe lupa, ya. Projek kamu berikutnya berhubungan dengan ini soalnya."

(2 minggu kemudian)
"Masih inget, kan, smartphone itu apa?"
"Eerr..."
(Gw nungguin)
(Dia tetep diem, mukanya kaya orang lagi berpikir ayam sama telur duluan mana)
"Aduh, lupa. Saya coba belajar lagi deh".
"... (Speechless, mending kalo gampang lupa tapi belajarnya cepet, ini mah, belajarnya lelet)"

Junior dengan Segudang Alasan
"Kok makalahnya masih belum selesai juga? Deadline-nya kan harusnya tiga hari lalu."
"Iya, soalnya kemarin ada sedikit masalah."
"Apa masalahnya?"
"Tiga hari lalu keyboard-nya rusak, jadi ga bisa ngetik."
"Terus sekarang udah bener? Solusinya gimana?"
"Udah bener. Ga tau juga, saya ga ngapa-ngapain, tiba-tiba aja dia udah bisa ngetik lagi."
"Terus selain itu, apa yang membuat kamu ga bisa nyelesain ini dalam waktu 1 bulan? Kita udah ngasih kamu waktu lama banget, lho, Mengingat kamu juga masih baru. Biasanya makalah kaya gini, 1 minggu udah bisa selesai."
"Iya, abis keyboard-nya rusak, terus sehari berikutnya mouse-nya juga rusak. Abis itu, sebenernya kemarin udah selesai, cuma tiba-tiba listriknya mati, terus dokumennya belum tersimpan, padahal udah ngetik panjang lebar. Makanya harus ngulang lagi sekarang."
"(Mulai capek dengerin alasan) Jadi, kamu butuh waktu berapa lama lagi sekarang?"
"Kira-kira 1 minggu lagi."
"..."

Junior Nyolot
"Buat bikin kaya gini, kira-kira kamu butuh waktu berapa lama?"
"Sepuluh hari... Sepuluh hari kerja."
"Sepuluh hari terlalu lama. Hal kaya gini seharusnya kamu bisa selesain dalam waktu 2 hari. Saya bakal kasih kamu waktu 3 hari. Dari situ kita liat perkembangan selanjutnya."
"Kalo gitu lain kali, ga usah pake nanya berapa hari, langsung aja bilang 3 hari!"
(Terus dia dipanggil bos dan diajak ngomong empat mata. HAHA!)

Junior yang Ga Ngerti Perbedaan
"Dari presentasi kamu, coba tolong jelaskan lagi bedanya Katy Perry sama Tom Cruise."
"Oow itu.. Jadi gini, kalo Katy Perry itu matanya ada dua. Sedangkan Tom Cruise, hidungnya cuma satu."
"Katy Perry matanya dua? Kalo Tom Cruise matanya emang berapa?"
"Iya, Katty Perry matanya dua. Kalo Tom Cruise hidungnya satu."
"Saya ga tanya hidungnya, saya tanya matanya Tom Cruise berapa?"
"Dua."
"Lah, berarti mereka sama-sama punya dua mata, terus apa bedanya?"
"Bedaaaa... Tom Cruise matanya dua, tapiiiii hidungnya cuma satu."
"Memang hidungnya Katy Perry berapa?"
"Saya lagi membandingkan matanya Katy Perry sama hidungnya Tom Cruise."
"Kalo kamu mau compare, harus cari topik pembanding yang sama donk. Misalnya jenis kelaminnya, Tom Cruise itu lelaki, Katy Perry itu perempuan. Jangan membandingkan mata dengan hidung."
"Iya, saya ngerti. Tapi Katy Perry matanya dua. Tom Cruise hidungnya satu. Itu kan udah jelas perbedaannya. Katy Perry dua, Tom Cruise satu. Di sini, saya fokus membandingkan angka dua dengan satu, tidak perlu fokus di mata dan hidungnya."
(Dan percakapan kaya gini bisa berlanjut sampe setengah jam, sampe akhirnya gw menyerah mengajarkan dia tentang perbedaan).

Junior yang Super Careless
"Saya baru dapet email dari client, mereka curiga kalo ada yang salah sama sistem kita. Menurut mereka berdasarkan laporan penjualan, penjualan mereka untuk bulan ini turun drastis."
"Oke bentar saya cek dulu"
(Keesokan harinya)
"Gimana, udah dicek masalah yang kemaren?"
"Saya ingat saya waktu itu update software awal bulan ini, buat fix beberapa bugs. Tapi ternyata ada bug lain, gara-gara kurang teliti, sebagian data penjualan ga masuk ke dalam database. Jadi data dari awal bulan sampe detik ini, penjualan di atas jam 12 siang, ga masuk ke database."
"HAH??? (Gw speechless lagi. Karena kalo udah berurusan sama missing data itu ribet!)"

Junior yang Ga Punya Sense of Design
(Lagi nge-design buat game virtual pet)
"Loh, ini binatangnya mana? Terus, kok, malah banyak tombol gini? Ada mulut, tangan, kaki, apel, bola... Tombol-tombolnya juga ga rapi gini. Satu terlalu ke atas, yang ini malah miring-miring. Ini cara mainnya gimana? "
"Ini fungsinya sama kaya game virtual pet lainnya, kok."
"Sama gimana? Binatangnya aja saya ga liat."
"Oh ada binatangnya. Gini cara liatnya, klik tombol kepala, ntar bisa liat binatangnya plus info-info lainnya, kaya nama, umur, dan lainnya."
"Kalo mau makan?"
"Klik gambar mulut. Setelah itu klik gambar apel."
"Kalo mau pilih makanan lain?"
"Hmm.. itu belom saya pikirkan. Saya pikir lebih baik kalo semuanya dibikin simple. Jadi saya cuma kasih satu jenis makanan aja."
"Terus kenapa saya harus klik gambar mulut dulu? Kalo langsung klik gambar apel memangnya ga bisa?"
"Ya supaya tahu kalo apel itu bakal masuk ke mulut."
"Design kamu sangat aneh. Apa sebelumnya kamu sudah melakukan riset bagaimana orang-orang lain men-design game virtual pet?"
"Ya, saya sudah lihat. Tapi saya tidak suka. Saya lebih suka design saya, lebih simple dan user-friendly."
"..."

Junior yang Cerdas
Eh, ini sih, bukan juniors from hell.
Thursday, December 4, 2014

Tiada Hari Tanpa Tawa: Bahasa Malaysia Oh Bahasa Malaysia

Udah pada tau, kan, kalo Bahasa Malaysia cukup unik dan kadang bikin kita, orang-orang Indonesia tertawa geli? Berikut beberapa kisah pengalaman gw berurusan dengan bahasa unik ini.

Awal-awal gw dateng ke Malaysia, gw tercengang dengan kecanggihan alat transportasi di Malaysia. Gimana enggak, gw lagi jalan di trotoar, pas mau nyebrang gang kecil, gw liat ada plang di pinggir gang yang tulisannya:
AWAS
KERETA
GILAAAA!! Kereta di Malaysia jalannya di jalan raya dan bisa masuk sampe gang-gang pinggir jalan! Gw mau nyebrang gang kecil aja jadi liat kanan-kiri sepuluh kali, saking takutnya ketabrak kereta. 
Ternyataaaaa, kereta itu artinya mobil.


Beberapa meter kemudian, gw sampai di hypermarket buat berbelanja kebutuhan-kebutuhan dasar yang ga bisa gw bawa dari Indonesia. Kalo kata orang Malaysia, kegiatan ini namanya 'membeli-belah', yang gw tanggepin dalam hati, 'Belah, kok, dibeli. Btw, belah itu apa juga gw ga tau.'

Di samping pintu masuk tempat membeli-belah ini, gw liat ada spanduk gede:
BELI SYAMPU 1
PERCUMA 1!!!*
Gw bengong, butuh waktu beberapa detik buat mencerna maksud spanduk ini. Apa ini maksudnya kalo beli shampoo ga boleh satu doank? Karena kalo beli satu percuma? Tapi, suka-suka gw donk. Gw, kan customer. Kata orang, customer adalah raja. Kok raja mesti diatur-atur harus beli berapa?
Ternyataaaaa, percuma itu artinya gratis.


Ketawa ngeliat sign itu jauh lebih ga malu-maluin dibanding speechless karena ga ngerti si lawan bicara ngomong apaan. Dari sini, ke-sotoy-an gw terlatih, walau awal-awalnya, gw kadang bisa bengong beberapa detik saking bingungnya.

Kisah 1: Gw lagi di restoran Malay pinggir jalan, mau pesen makanan

Gw: Saya nak order ini ada?
Dia: Tak boleh.
Gw: (Nunjuk gambar makanan lain) Ini, Bang?
Dia: Itu pun tak boleh.
Gw: (Salah apa gw, sampe ga boleh pesen makanan? Muka gw ga kere-kere amet perasaan) Kalo yang ini?
Dia: Tak boleh lah. 
Gw: Kenapa semua tak boleh, Bang?
Dia: Ayam dah habis.
Gw: ...

Kisah 2: Gw mau janjian jalan-jalan sama temen gw yang orang Malay.

Gw: Besok pukul 10, ok?
Dia: Tak boleh lah.
Gw: (Ngajak jalan jam 10 pagi melanggar UU, ya?) Why?
Dia: Pukul 10 saya nak hantar saya punya Mom pergi airport. Pukul 12 boleh?
Gw: ...

Ternyataaaaa, boleh itu artinya bisa. Tak boleh artinya ga bisa.


Kisah 3: Gw lagi makan nasi lemak, makanan khas Malaysia, tiba-tiba ada temen gw yang udah agak berumur lewat. Di Malaysia, kebanyakan kita manggil orang-orang seumuran bokap-nyokap kita dengan panggilan: Uncle-Antie.

Gw: Morning, Uncle.
Dia: Morning. Makan apa?
Gw: Nasi Lemak, Uncle.
Dia: Wah, sudah pandai makan nasi lemak.
Gw: ...

Seriusan gw ga jawab apa-apa saking bingungnya. Emang makan nasi lemak butuh kepandaian tertentu? Untung aja tuh Uncle cuma lewat sekilas aja. Kalo enggak, pembicaraannya mungkin bakal jadi begini:

Gw: Iya donk, Uncle. Saya sudah berlatih 3 tahun untuk menguasai skill makan nasi lemak.
Dia: Dalam 3 tahun ini, sudah berapa kali makan nasi lemak?
Gw: Sehari tiga kali. Berarti sudah 365 x 3.
Dia: Wah, cepat sekali sudah menguasai skill-nya. Padahal makan nasi lemak tidaklah mudah. Orang sini saja butuh waktu puluhan tahun supaya pandai makan nasi lemak.

(dan seterusnya, dan seterusnya, dan seterusnya. Kalo gw lanjutin kisah imajinasi gw ini, gw takut para pembaca yang kenal gw, bakal nyeret gw ke rumah sakit jiwa terdekat).

Ternyataaaaa, sudah pandai makan nasi lemak itu artinya.......... gw juga ga tau.


Dan masih banyak kisah-kisah serupa tapi tak sama, yang mungkin bakal gw ceritakan di post-post berikutnya.