Sunday, May 10, 2015

Jalan-Jalan Terus: Pulau Lombok yang Menawan

Walaupun lokasinya berdekatan dengan Kepulauan Gili, Pulau Lombok memberikan nuansa yang jauh berbeda dari Gili. Di post sebelumnya, gw menuliskan kalo selama di Gili, gw ga ngerasa sedang berada di Indonesia, sedangkan di Lombok, gw ngerasa kalo gw di Indonesia banget.

Satu kesamaan Gili dan Lombok yaitu penduduknya yang super ramah. Namun sayangnya, mereka cenderung kurang memperhatikan lingkungan sekitar. Sampah di mana-mana, dan yang paling nyebelin, orang merokok pun di mana-mana. Jarang sekali gw temuin restoran yang mempunyai smoking area khusus, kalopun ada, pasti smoking area dan non-smoking area hanya terpisahkan oleh tembok bayangan yang ga bisa dilihat oleh siapapun. Bahkan di dalam mall-mall dan bandara yang ber-AC sekalipun, gw mencium asap rokok di mana-mana. Miris!

Terlepas dari semua itu, Lombok mempunyai pesona alam yang sangat alami dan mengagumkan, membuat gw jatuh hati! Harga-harga makanan dan paket tour pun, jauh lebih murah dibandingkan Gili.

Mobil atau motor merupakan pilihan transportasi terbaik di Lombok, dikarenakan jarak objek wisatanya yang berjauhan dan jalan yang berlika-liku. Harga sewa mobil bervariasi. Sayangnya, banyak agen yang tidak mengijinkan orang lokal menyewa mobil tanpa sopir. Namun, setelah bernegosiasi, gw diperbolehkan menyewa mobil tanpa sopir dengan harga 550 ribu rupiah untuk 2 hari 1 malam, tidak termasuk bensin.

Kenapa gw pilih sewa mobil tanpa sopir?
  • Harga lebih murah.
  • Tidak perlu pusing mikirin makan siang dan makan malam sopir.
  • Tidak perlu ngikutin jam kerja sopir (9 pagi - 6 sore), jadi kita tidak perlu merasa diburu-buru untuk pulang.
  • Lebih menantang, karena pake nyasar-nyasar dikit. 

Kuliner

Makanan Lombok yang paling khas: Ayam Bakar Taliwang! Selain itu, ada juga Sayur Lebui, dan Pelecingan yang pedas. Untuk menikmati makanan khas Lombok, restoran rekomendasi gw yaitu Taliwang Irama, Dua EM, atau Lesehan Green Asri yang bisa merasakan sensasi makan di tengah sawah. Semuanya terletak di kota Mataram.
Ayam Bakar Taliwang

Desa Sukarara

Surganya kain tenun Lombok ini terletak di Kecamatan Jonggat, Lombok Tengah. Letaknya yang dekat dengan bandara, menjadikan desa ini sebagai objek wisata pertama yang gw kunjungi di Lombok.

Di desa ini, kita bisa membeli kain tenun, melihat proses pembuatan kain tenun, mencoba baju adat khas Lombok, bahkan belajar menenun sendiri. Biaya untuk meminjam baju adat dan berfoto adalah seikhlasnya.

Kain tenun dikategorikan menjadi 2 jenis, berdasarkan bahan dan polanya, yaitu Songket dan Ikat. Dua-duanya bisa kita temukan di sini. Harga kain tenun di sini relatif mahal, berkisar antara 100 ribu - 200 ribu bergantung dari corak dan jenisnya. Hal ini dikarenakan pembuatannya yang masih manual dan memakan waktu lama (sekitar 1 minggu per meter), dan kualitasnya yang katanya lebih terjamin.

Uniknya, di desa ini, para pemuda dan pemudi mulai diajari menenun sejak berusia 9 tahun. Perempuan pun tidak diperbolehkan menikah apabila belum bisa membuat kain tenun sendiri. Aturan tidak tertulis ini sengaja dibuat untuk melestarikan budaya tenun di Desa Sukarara.
Proses menenun
Pakaian tradisional Lombok (tampak depan)
Pakaian tradisional Lombok (tampak belakang)
Rumah adat Lombok: Rumah Lumbung

Pantai Senggigi

Walau pasir dan airnya tidak begitu bersih, Pantai Senggigi yang terletak di wilayah Barat Pulau Lombok ini, merupakan pantai terbaik untuk menikmati matahari terbenam.
Sunset di Pantai Senggigi

Desa Banyumulek

Terletak di Kecamatan Kediri, Lombok Barat, Desa Banyumulek merupakan pusat kerajinan gerabah di Lombok. Tiket masuk ke sini sebesar 5 ribu per orang, dan biaya untuk belajar membuat gerabah itu seikhlasnya.

Proses pembuatannya sebenernya cukup simpel dan mudah, dan hanya memakan waktu sekitar 10 menit. Gw ngerasa kaya lagi main mainan masa kecil gw: malam. Atau kalau pinjem istilah anak-anak jaman sekarang: Play-doh.  Bedanya, ini tidak lengket, lebih fleksibel dan lebih kuat.

Pas ditanya mau bikin apa, gw jawab gw mau bikin sesuatu yang paling simpel dan paliiiing gampang. Dalam benak gw, mungkin mangkuk atau gelas kecil. Eeehh tau-tau si ibu malah nyeletuk: 'Oh, asbaaak.' (sambil ketawa-ketawa), sambil berusaha meyakinkan kalo asbak juga gampang bikinnya. Gw pun pasrah. Dan... pas asbaknya udah jadi, si ibu malah nyuruh gw nambahin cicak di samping. Anyway, gw suka cicaknya karena nyengirnya kelebaran jadi dia keliatan kaya cicak yang suka heboh sendiri.
Belajar membuat asbak dari gerabah
Menuliskan nama di asbak sambil diketawain cicak yang nyengirnya kelebaran
Asbak dengan cicak berbadan bolong-bolong, keliatan ga?
Setelah jadi, asbak yang masih basah ini perlu dijemur kurang lebih 1 hari dengan panas yang tidak begitu menyengat. Panas yang terlalu menyengat justru membuat gerabah jadi retak.

Desa Sasak

Sejujurnya, pas gw di Lombok, gw ga nemu desa ini di Google Map. Hampir saja objek wisata ini dicoret dari list gw. Tapi ternyata, dalam perjalanan menuju pantai selatan Lombok, Desa Sasak muncul begitu saja di pinggir jalan. Yay!

Biaya masuk dan tour guide 35 ribu per orang. Mereka sangat ramah dan membantu menjelaskan tentang budaya Sasak, serta menemani kita berkeliling Desa Sasak yang ternyata cukup besar. Desa Sasak ini merupakan desa asli Lombok dengan adat dan budaya unik. Berikut rangkumannya:
  • Di dalamnya terdapat 150 rumah dan 750 penduduk. Berhubung penduduknya yang makin besar, ada 7 desa lain yang dibangun di lokasi berdekatan. Namun, hanya lokasi yang ini yang dijadikan objek wisata.
  • Di desa ini, semua bersaudara, layaknya keluarga yang sangat besar. Mereka menikahi sepupu sendiri untuk melestarikan adat dan budaya mereka.
  • Apabila ingin menikah, pihak lelaki tidak datang untuk meminta restu dari keluarga perempuan, karena menurut mereka, tindakan tersebut justru tidak sopan. Pihak laki-laki justru menculik pihak perempuan tanpa sepengetahuan orang tua dari pihak perempuan, kemudian perempuan ini disembunyikan di salah satu rumah keluarganya. Setelah itu, baru keluarga pihak laki-laki memberi tahu, melamar pihak perempuan, dan bernegosiasi. Dalam hal ini, apabila si perempuan setuju untuk menikah, keluarga pihak perempuan tidak punya hak untuk tidak menyetujui pernikahannya.
  • Mereka merayakan pemotongan rambut bayi pertama kalinya dengan menyembelih 9 ekor ayam atau 1 ekor kambing, yang nantinya digunakan untuk makan dan berpesta bersama.
  • Penduduknya rata-rata tidak bisa berbahasa Indonesia. Dalam kesehariannya, mereka menggunakan bahasa asli lombok untuk berkomunikasi, termasuk sekolah. Hanya 11 orang yang fasih berbahasa Inggris. Salah satu dari 11 orang ini lah yang menjadi tour guide menemani gw berkeliling.
  • Atap rumah penduduk terbuat dari alang-alang yang dikeringkan. Atap ini diganti ketika sudah bocor, biasanya setiap 6-7 tahun sekali.
  • Walau di KTP tertulis beragama Islam, namun sesungguhnya agama mereka merupakan campuran dari ketiga aliran kepercayaan: Islam, Hindu, dan Animisme (percaya pada makhluk halus dan roh). Maka dari itu, setiap rumah memiliki 'Watu Telu' atau tiga batu berbentuk tangga yang dijadikan simbol tiga aliran kepercayaan ini.
  • Rumah mereka berukuran dan berbentuk nyaris sama. Dua tingkat tanpa kamar mandi. Mereka mandi di kamar mandi umum di desa mereka.
  • Setiap bulannya, mereka mengadakan ritual untuk memohon para leluhur memberikan berkah. Dalam ritual ini, mereka biasanya menyembelih ayam dan melapisi lantai rumahnya dengan kotoran sapi atau kerbau.
  • Mayoritas penduduknya adalah petani. Padi yang mereka tuai mereka simpan di rumah lumbung, dan siapapun boleh mengambil berapapun untuk konsumsi sendiri. Di satu desa ini, totalnya ada 11 rumah lumbung.
Berpose di depan rumah kepala desa
Tipikal rumah warga Sasak. Tiga batu tersebut merupakan simbol 'Watu Telu'. Lantai bawah digunakan untuk tempat tidur si ayah dan anak-anak.
Lantai atas digunakan untuk tempat tidur si ibu dan untuk memasak saat hari hujan 
Rumah Lumbung untuk menyimpan beras
Di desa ini, banyak juga orang-orang yang membuat benang dan menawarkan souvenir hasil bikinan mereka sendiri. Tapi saran gw, kalau mau beli souvenir seperti gelang atau kalung, jangan beli di sini karena harganya mahal. Belilah di pinggir pantai di mana anak-anak kecil menawarkan barang yang sama dengan harga 10 ribu untuk 3 biji.

Pantai di Bagian Selatan Lombok

Dibanding pantai Senggigi, air di pantai selatan Lombok lebih jernih dan pasirnya lebih putih. Hal ini dikarenakan erupsi Gunung Rinjani yang membuat pantai-pantai di bagian tengah Lombok jadi tidak begitu jernih. Saking pengennya liat pantai-pantai yang katanya indah itu, gw bela-belain ke bagian Selatan Lombok, yang letaknya 2,5 jam dari Senggigi.

Selain karena keindahannya, pantai-pantai di Selatan Lombok sangat cocok untuk surfing dikarenakan ombaknya yang deras. 

Pantai pertama yang gw kunjungi adalah Pantai Kuta. Singgah sebentar untuk makan siang, kemudian melanjutkan menyusuri bagian timur Pantai Kuta. Sepuluh menit kemudian, gw tiba di Pantai Seger. Tidak sampai 1 menit di sana, gw pun berangkat ke Pantai Tanjung Aan, yang berjarak 20 menit dari Pantai Seger.
Pantai Tanjung Aan
Gw mulai kecewa. Pantainya memang ramai, tapi kotor, airnya kotor, bahkan sampah di mana-mana. Pasirnya pun kotor. Anak-anak kecil berjualan di mana-mana, bahkan terkesan maksa. Sampe ngikutin gw dan hampir masuk ke restoran. Hati gw miris. Ga bisa banget ya, kita, orang Indonesia, menjaga kebersihan lingkungan kita sendiri? Atau bersikap sedikit bersahabat membiarkan para turis menikmati pantai tanpa 'memaksa' para turis membeli barang dagangan?

Tanpa berharap banyak, gw memutuskan ke Pantai Mawun dan Selong Belanak yang letaknya di sebelah barat Pantai Kuta. Perjalanan ke Pantai Mawun memakan waktu kira-kira 30 menit dengan jalanan cukup sempit, berliku, dan naik turun, berbeda jauh dengan jalan menuju Pantai Seger dan Tanjung Aan yang datar.

Hasilnya, membuat gw yang tadinya udah hilang semangat, jadi melonjak kegirangan. Pantai Mawun, pantai berair jernih dan berpasir putih. Gw pun menyempatkan diri bermain air di sini.
Pantai Mawun
Pantai terakhir yang akan gw kunjungi yaitu Pantai Selong Belanak, 10 menit dari Pantai Mawun. Lagi-lagi, jalannya sempit, naik turun dan berliku. Tidak sia-sia, pantai ini merupakan pantai terindah yang pernah gw liat. Hamparan pasir yang halus dan luas, serta airnya yang jernih, bikin gw jatuh hati dan berasa ga mau pulang. A MUST go beach buat para pencinta pantai!!
Hey you! Yeah, me?
Hamparan pasir kering
Hamparan pasir basah nan halus yang sangat luas, sampe-sampe gw bisa nulis nama gw besar-besar
Mengabadikan helikopter lewat sambil menikmati matahari terbenam

Hutan Monyet Pusuk
Berada di kawasan Lombok Barat, hutan monyet merupakan salah satu jalan alternatif menuju Air Terjun Sendang Gile dan Tiu Kelep. Di sini, ratusan monyet setia bertengger di pinggir jalan dan akan mendatangi para turis yang membawa makanan. Jangan lupa membawa kacang atau pisang untuk memberi makan dan berfoto-foto dengan para monyet di sini.

Air Terjun Sendang Gila dan Tiu Kelep

Pintu masuk ke air terjun
Di area ini, terdapat 2 air terjun, yaitu Air Terjun Sendang Gila dan Air Terjun Tiu Kelep. Walau air terjun Sendang Gila lebih popular, tapi menurut gw, Air Terjun Tiu Kelep lah yang lebih bagus dan lebih tinggi.

Untuk menuju Air Terjun Tiu Kelep, diperlukan adanya tour guide dikarenakan tidak adanya plang jalan dan sulitnya akses menuju ke sana. Tanpa tour guide, sepertinya gw bakalan kesasar dan ga tau jalan. Biaya tour guide 100 ribu rupiah.

Jarak dari pintu masuk ke Air Terjun Sendang Gila kira-kira 15 menit. Sedangkan jarak dari Air Terjun Sendang Gila ke Air Terjun Tiu Kelep memakan waktu 25 menit. Jangan berharap jalannya bakalan bagus dan rata. Untuk mencapai air terjun pertama, banyak tangga yang harus dilewati. Untuk mencapai air terjun kedua, bukan hanya tangga saja, tetapi ada jembatan gantung, dan sungai dengan arus yang cukup deras untuk disebrangi.
Menyebrangi sungai
Setelah kira-kira 30 menit berjalan dan ngos-ngosan berasa mau mati, si tour guide bilang, ini udah sampe, kok, di air terjun. Gw bengong, ngeliat kiri kanan ga ada air terjun, cuma denger suaranya doank dari tadi. Otak gw udah merencanakan untuk menenggelamkan si tour guide yang udah ngerjain gw ini di air terjun (bercanda :P). Tetapi ternyata, di balik batu besar, gw melihat air terjun yang paling keren yang pernah gw liat.
Air Terjun Tiu Kelep
Air terjun dengan ketinggian kira-kira 42 meter ini cukup menawan. Airnya super jernih dan dingin, bersumber dari Danau Segara Anak Gunung Rinjani. Si tour guide bahkan mengambil air langsung dari air terjun dan dimasukkan ke dalam botol air mineral untuk diminum. Gw pun sempat mencoba, rasanya memang benar-benar menyegarkan.

Konon katanya, mandi di sini membuat kita awet muda. Maka itu, gw menyempatkan diri untuk bermain-main di sini, sekedar membasahi diri biar gw awet muda :)

Pulangnya, atas saran tour guide kita yang sedikit edan, gw memilih jalan yang sedikit anti mainstream: lewat saluran air yang panjang! Berbekal senter dari HP, kita jalan perlahan-lahan dikarenakan arus yang kuat dan jalan yang terkadang berlubang di tengahnya selama kurang lebih 3-5 menit. Memang, sih, jalan ini lebih cepat dan tidak melelahkan karena menghemat waktu naik turun tangga. Tapi, walaupun seru, kalo disuruh masuk sendiri, gw ga berani. Secara di dalem gelap banget dan beberapa kali gw ngeliat ada laba-laba dan kelelawar terbang di atas kepala gw.
Jalan pulang anti mainstream: Pintu masuk saluran air
Jalan pulang anti mainstream: Pintu keluar saluran air
Saran gw, jangan menggunakan sandal jepit ke sini, karena arus yang deras bisa membuat sandal jepit terbawa arus dan hilang sewaktu-waktu. Kalaupun masih mau memakai sandal jepit, sebaiknya bawa sandal jepit cadangan. 

Oleh-Oleh Khas Lombok

Selain magnet, gantungan kunci, dan kaos bertulisan Lombok, makanan-makanan lokal khas Lombok seperti dodol rumput laut, susu kuda liar, dan madu putih sumbawa, juga bisa dijadikan oleh-oleh. Opsi lainnya adalah mutiara, gelang dari kerang atau batu-batuan, atau kain tenun.

Oleh-oleh dari Lombok

0 comments:

Post a Comment