Monday, September 28, 2015

Miskonsepsi Tentang Makanan Dalam Agama Buddha

Miskonsepsi 1: Umat Buddha Tidak Berdoa Sebelum Makan

"Are you Christian?"

Sering banget gw ditanyain kaya gitu sama orang ga kenal. Pas gw tanya balik, apa yang bikin mereka mengira begitu, mereka pasti jawab "Gw ngeliat lo berdoa sebelum makan."

Bukannya semua agama seharusnya berdoa sebelum makan?

"I'm Buddhist."
Mereka makin bengong, "I never see Buddhist pray before meals!"

Kenyataannya, kita para penganut ajaran Buddha, juga berdoa sebelum makan. Tentang doanya, masing-masing aliran mungkin mempunyai doa-doa atau gatha tersendiri.
Para bhikkhu dan bhikkhuni Thailand berdoa sebelum makan (Lee Craker, 2014)

Miskonsepsi 2: Umat Buddha Harus Vegetarian

"And you are not a vegetarian? You said you're Buddhist."

Untuk menjawab hal ini, mari kita lihat kembali ke jaman Sang Buddha Siddhartha Gautama. Sang Buddha pernah berkata, "Semua makhluk hidup bertopang pada makanan". Ajaran Buddha tidak mengecam ataupun menganjurkan seseorang menjadi vegetarian. Kita bebas untuk memilih apa yang mau kita makan, baik itu sayuran maupun daging.

Pernah mendengar kata 'Pindapatta'?

Umat memberikan dana makanan saati pindapatta (dhammaflavour.net, 2011)
Pindapatta artinya menerima persembahan makanan. Pindapatta merupakan tradisi Buddhist yang telah dilaksanakan sejak zaman kehidupan Sang Buddha Gautama hingga saat ini, terutama di beberapa negara, seperti Thailand, Kamboja, Myanmar, dan Sri Lanka. 
Ketika berpindapatta, para Bhikkhu / Bhikkhuni berjalan kaki dengan kepala tertunduk sambil membawa Patta (mangkok makanan) untuk menerima dana makanan dari umat. Dalam Pindapatta, Bhikkhu / Bhikkhuni tidak boleh meminta ataupun menolak sesuatu.
Yup betul, ga boleh minta, dan ga boleh nolak. Kalo memang memutuskan untuk ber-vegetarian, dagingnya boleh saja diberikan pada Bhikkhu / Bhikkhuni lain. Dan jangan heran kalo saat pindapatta, mereka terkadang mendapatkan makanan dengan kombinasi yang aneh seperti kari dengan es krim. Atau makanan yang ekstrim seperti kari semut, kodok rebus, atau belalang goreng, karena bisa jadi makanan tersebut dianggap normal oleh penduduk setempat. Menurut gw, lebih mudah jadi vegetarian, daripada makan makanan ekstrim begitu.

Seorang bhikkhu seharusnya mengkonsumsi makanan bukan untuk kenikmatan, mendapatkan kekuatan khusus, mengembangkan bagian tubuh agar tampak menarik, dan bukan untuk mempercantik diri. Tetapi hendaknya sekedar demi kelangsungan hidup, memelihara kesehatan, dan memungkinkan mereka tetap bisa menjalankan kehidupan suci (Apannaka Sutta, Anguttara Nikaya). 

Miskonsepsi 3: Umat Buddha Boleh Makan Daging Apapun

Kebalikan dari miskonsepsi yang ke 2, walaupun Sang Buddha Gautama tidak mengecam atau menganjurkan seseorang menjadi vegetarian, namun ada beberapa pantangan dalam hal makanan.

Berikut 10 jenis daging yang sebaiknya dihindari umat Buddhist, seperti yang tertulis dalam Mahavagga Pali, Vinaya Pitaka.

  1. Daging manusia.
  2. Daging gajah.
  3. Daging kuda.
  4. Daging anjing.
  5. Daging ular.
  6. Daging singa.
  7. Daging harimau.
  8. Daging macan tutul.
  9. Daging beruang.
  10. Daging serigala atau hyena.

Daging manusia tidak seharusnya dimakan karena berasal dari spesies yang sama. Daging gajah dan kuda juga tidak seharusnya dimakan karena pada jaman dahulu, mereka adalah peliharaan dari seorang raja. Daging anjing dan ular tidak seharusnya dimakan karena mereka termasuk jenis hewan yang kotor dan menjijikkan. Kelompok terakhir adalah singa, harimau, macan tutul, beruang, dan serigala. Daging tersebut tidak seharusnya dimakan karena mereka tergolong binatang berbahaya. Jika dimakan, bau daging binatang tersebut bisa membahayakan para Bhikkhu yang bermeditasi di hutan.

Gw kurang tahu apakah aturan '10 jenis daging yang harus dihindari' relevan atau tidak untuk orang awam seperti kita, yang tidak mempraktikkan meditasi di hutan.

Selain itu, ada '3 syarat daging yang tidak boleh dikonsumsi' atau yang biasa disebut daging tidak murni, berlaku bagi seluruh umat Buddhist. Syarat tersebut adalah:

  1. Melihat secara langsung pada saat binatang tersebut dibunuh.
  2. Mendengar secara langsung suara binatang tersebut pada saat dibunuh.
  3. Mengetahui bahwa binatang tersebut dibunuh khusus untuk diri kita.

Apabila memenuhi satu atau lebih dari poin di atas, daging tersebut tidak murni dan tidak boleh dikonsumsi.

5 comments:

  1. Aku juga umat Buddhis, aliran Theravada. Seringkali dalam menjalankan sila banyak membuat keheranan orang, selain makan juga soal aturan parfum, perhiasan terutama bergosip, hehe :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oow baru tau kalo Ron Buddhist juga. Gw aliran Tantrayana.

      Theravada itu setau gw, aliran yang paling menjaga sila. Kalo ga salah, Theravada itu bhante-nya wajib vegetarian dan atthasila, kan? Kalo Mahayana ama Tantrayana sih enggak.

      Emang sih orang-orang non-Buddhist suka bingung ngeliat sila-sila nya, ya. Seolah-olah kita ini pasif sekali dan ga boleh ngapa-ngapain selain meditasi di bawah pohon. Hehehehe...

      Delete
    2. Nggak wajib vege sih tapi sila yang harus dijaga utamanya aja 300an. Aku sebenarnya sudah hampir hidup jadi samanera terus ke Bhikkhu, sayangnya orang tua belum mengizinkan karena beda keyakinan, hehe.

      Mahayana sebagian besar malah harus Vege sih, kebenaran sebelumnya aku belajar semua agama yang ada.

      Ya, mereka harus bisa bedakan umat awam sama praktisi yang udah meninggalkan keduniawian sih, haha.

      Paling sering kalau pindapatta itu ada yang kasih uang.

      Delete
    3. Oh, berarti gw kebalik antara Mahayana dan Theravada. Ya kalo jadi Bhikkhu emang sila nya seabrek-abrek. Hmm.. padahal bagus lho jadi Bhikkhu, bisa cepat-cepat terlepas dari samsara. Semoga suatu hari orang tua mengizinkan ya :).

      Yang gw tau malah kalo di Indonesia, sebelum pindapatta gitu biasanya panitia vihara udah ngasih penyuluhan gitu ke masyarakat sekitar. Jadi biasanya masyarakat udah tau apa yang boleh dikasih apa yang enggak. Mungkin kalo ga ada penyuluhannya, ya dikasih uang kali ya. Padahal Bhikkhu kan ga boleh punya uang. Hehehehe..

      Delete
    4. Kalau di kota besar mungkin begitu ya. Kalau di daerah Indonesia masih banyak yang begitu jadi Bhikkhunya di dampingi umat saat pindapatta.

      Ya, semoga bisa tercapai dikehidupan ini menjalani hidup pertapaannya hehe :)

      Delete